cursors

Text Select - Hello Kitty

Jumat, 23 Oktober 2015

Tugas 2 : Sejarah Perkembangan Etika Bisnis



Etika sebagai ilmu mempunyai tradisi yang sudah lama. Tradisi tersebut sama halnya dengan seluruh sejarah filsafat, karena etika dalam arti ini merupakan suatu cabang filsafat. Etika bisnis merupakan cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan dan juga masyarakat. Etika Bisnis dalam suatu perusahaan dapat membentuk nilai, norma dan perilaku karyawan serta pimpinan dalam membangun hubungan yang adil dan sehat dengan pelanggan/mitra kerja, pemegang saham, masyarakat.

 Situasi Dahulu

 Berabad-abad lamanya etika berbicara pada taraf ilmiah tentang masalah ekonomi dan bisnis sebgai salah satu topic di samping sekian banyak topic lain. Pada awal sejarah filsafat, Plato, Aristoteles, dan filsuf-filsuf Yunani lain meyelidiki bagaimana sebaiknya mengatur kehidupan menusia bersama dalam Negara dan dalam konteks itu mereka membahas juga bagaimana kehidupan ekonomi dan kegiatan niaga harus diatur. Dalam filsafat dan teologi Abad pertengahan pembahasan ini dilanjutkan, dalam kalangan Kristen maupun Islam, Topik-topik moral sekitar ekonomi dan perniagaan tidak luput pula dari perhatian filsafat (dan teologi) di zaman modern.

Dengan membatasi diri pada situasi di Amerika Serikat selama paro pertama abad ke-20, De George melukiskan bagaimana di perguruan tinggi masalah moral di sekitar ekonomi dan bisnis terutama disoroti dalam teologi.

Pada waktu itu di banyak universitas diberikan kuliah agama dimana mahasiswa mempelajari masalah-masalh moral sekitar ekonomi dan bisnis. Pembahasannya tentu berbeda, sejauh mata kuliah ini diberikan dalam kalangan Katolik atau Protestan. Dalam kalangan Katolik, pada umumnya mata kuliah ini mendalami “Ajaran Sosial Gereja”. Yang dimaksudkan dengannya adalah uraian sistematis dari ajaran para paus dalam ensiklik-ensiklik social, mulai dengan ensiklik Rerum Novarum (1891) dari Paus Leo XIII. Disini disinggung banyak tema yang menyangkut moralitas dalam kehidupan social-ekonomi seperti hak pekerja atas kondisi kerja yang baik dan imbalan yang pantas, pentingnya nilai-nilai moral bertentangan dengan suasana materialitas dan konsumeristis, keadilan social dan upaya memperbaiki taraf hidup orang miskin, dan sebagainya. Dalam kalangan Protestan, buku teolog Jerman Reinhold Niebuhr Moral man and Immoral Society (New York, 1932) menjalankan pengaruh besar atas pengajaran etika mengenai tema-tema sosio ekonomi dan bisnis di perguruan tinggi mereka.

Dengan demikian di Amerika Serikat selama paro pertama abad ke-20 etika dalam bisnis terutama dipraktekkan dalam konteks agama dan teologi. Dan pendekatan ini masih berlangsung terus sampai hari ini, di Amerika Serikat maupun di tempat lain. Para paus mengeluarkan ensiklik-ensiklik social baru sampai dengan Sollicitudo Rei Socialis (1987) dan Centesimus Annus (1991) dari Paus Yohanes Paulus II. Suatu contoh bagus khusus untuk Amerika Serikat adalah dokumen pastoral yang dikeluarkan oleh para uskup Amerika Serikat dengan judul Economic Justice for All. Catholic Social Teaching and the U.S. Economy (1986).

Masa Peralihan : Tahun 1960–an 

Dalam tahun 1960-an terjadi perkembangan baru yang bisa dilihat sebagai persiapan langsung bagi timbulnya etika bisnis dalam decade berikutnya. Dasawarsa 1960-an ini di Amerika Serikat (dan dunia Barat pada umumnya) ditandai oleh pemberontakan terhadap kuasa dan otoritas, revolusi mahasiswa (mulai di ibukota Prancis bulan Mei 1968), penolakan terhadap establishment (kemapanan). Suasana tidak tenang ini diperkuat lagi karena frustasi yang dirasakan secara khusus oleh kaum muda dengan keterlibatan Amerika Serikat dalam perang Vietnam. Rasa tidak puas ini mengakibatkan demonstrasi-demonstrasi paling besar yang pernah disaksikan di Amerika Serikat. Secara khusus kaum muda menolak kolusi yang dimata mereka terjadi antara militer dan industry. Industry dinilai terutama melayani kepentingan militer. Serentak juga untuk pertama kali timbul kesadaran akan masalah ekologis dan terutama industri dianggap sebagai penyebab masalah lingkungan hidup itu dengan polusi udara, air, dan tanah serta limbah beracun dan sampah nuklir. Pada waktu yang sama timbul juga suatu sikap anti-konsumeristis. Suasana konsumerisme semakin dilihat sebagai tendensi yang tidak sehat dalam masyarakat dan diakibatkan oleh bisnis modern antara lain dengan kampanye periklanan yang sering kali berlebihan. Semua factor ini mengakibatkan suatu sikap anti bisnis pada kaum muda, khususnya mahasiswa.

Dunia pendidikan menanggapi situasi ini dengan cara berbeda-beda. Salah satu reaksi paling penting adalah member perhatian khusus kepada social issues dalam kuliah tentang manajemen. Bebrapa sekolah bisnis mulai dengan mencantumkan mata kuliah baru dalam kurikulumnya yang biasa diberi nama Business and Society. Kuliah ini diberikan oleh dosen-dosen manajemen dan mereka menyusun buku-buku pegangan dan publikasi lain untuk menunjang mata kuliah baru itu. Salah satu topic yang menjadi popular dalam konteks itu adalah corporate social responsibility ( tanggung jawab social perusahaan). Pendekatan ini diadakan dari segi manajemen dengan sebagaian melibatkan juga hokum dan sosiologi, tetapi teori etika filosofis di sini belum dimanfaatkan.

Etika Bisnis Lahir di Amerika Serikat : Tahun 1970–an 

Etika bisnis sebagai suatu bidang intelektual dan akademis dengan identitas sendiri mulai terbentuk di Amerika Serikat sejak tahun 1970-an. Jika sebelumnya etika membicarakan aspek-aspek moral dari bisnis di samping banyak pokok pembicaraan moral lainnya (etika dalam hubungan dengan bisnis), kini mulai berkembang etika bisnis dalam arti sebenarnya. Terutama ada dua factor yang member kontribusi besar kepada kelahiran etika bisnis di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1970-an. Sejumlah filsuf mulai terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etika sekitar bisnis dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang sedang meliputi dunia bisnis di Amerika Serikat. Kita akan memandang dua factor ini dengan lebih rinci.

Jika sebelumya hanya para teolog dan agamawan pada tahap ilmiah membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, pada tahun 1970-an para filsuf memasuki wilayah penelitian ini dan dalam waktu singkat menjadi kelompok yang paling dominan. Beberapa tahun sebelumnya, filsuf-filsuf lain sudah menentukan etika biomedis (disebut juga : bioetika) sebagai suatu bidang garapan yang baru. Sebagaian terdorong oleh sukses usaha itu, kemudian beberapa filsuf memberanikan diri untuk terjun dalam etika bisnis sebagai sebuah cabang etika terapan lainnya. Bagi filsuf-filsuf bersangkutan sebenarnya langkah ini merupakan perubahan cukup radikal, karena suasana umum penelitian filsafat pada saat itu justru jauh dari masalah praktis. Pantas dicatat lagi, dalam mengembangkan etika bisnis para filsuf cenderung bekerja sama dengan ahli-ahli lain, khususnya ahli ekonomi dan manejemen. Dengan itu mereka meneruskan tendensi etika terapan pada umumnya, yang selalu berorientasi multidisipliner. Norman E. Bowie malah menyebut suatu kerja sama macam itu sebagai tanggal kelahiran etika bisnis, yaitu konferensi perdana tentang etika bisnis yang diselenggarakan di Universitas Kansan oleh Philosophy Departement (Richard De George) bersama College of Business (joseph Pichler) bulan November 1974. Makalah-makalahnya kemudian diterbitkan dalam bentuk buku : Ethics, Free Enterprise, and Public Policy: Essays on Moral Issues in Business (1978).

Faktor kedua yang memacu timbulnya etika bisnis sebagai suatu bidang studi yang serius adalah krisis moral yang dialami dunia bisnis Amerika pada awal tahun 1970-an. Krisis moral dalam yang dialami dunia bisnis itu diperkuat lagi oleh krisis moral lebih umum yang melanda seluruh masyarakat Amerika pada waktu itu. Sekitar tahun 1970 masih berlangsung demonstrasi-demonstrasi besar melawan keterlibatan Amerika dalam perang Vietnam. Karena perkembangan perang ini, banyak orang mulai meragukan kredibilitas pemerintah federal di Washington dan para politisi pada umumnya. Krisis moral ini menjadi lebih besar lagi dengan menguaknya “Watergate Affair” yang akhirnya memaksa Presiden Richard Nixon mengundurkan diri (pertama kali dalam sejarah Amerika). Dilatarbelakangi krisis moral yang umum itu, dunia bisnis Amerika tertimpa oleh krisis moral yang khusus. Pada awal tahun 1970-an terjadi beberapa skandal dalam bisnis Amerika, di mana pebisnis berusaha menyuap politisi atau member sumbangan illegal kepada kampanye politik. Yang mendapat publisitas paling luas antara skandal-skandal bisnis ini adalah “Lockheed Affair”, kasus korupsi yang melibatkan perusahaan pesawat terbang Amerika yang terkemuka ini. Kasus korupsi dan komisi seperti itu mengakibatkan moralitas dalam berbisnis semakin dipertanyakan. Masyarakat mulai menyadari bahwa ada suasana kurang sehat dalam dunia bisnis dan bahwa krisis moral itu segera harus diatasi.

Sebagaian sebagai reaksi atas terjadinya peristiwa-peristiwa tidak etis ini pada awal tahun 1970-an dalam kalangan pendidikan Amerika dirasakan kebutukan akan refleksi etika di bidang bisnis. Salah satu usaha khusus adalah menjadikan etika bisnis sebagai mata kuliah dalam kurikulum perguruan tinggi yang mendidik manajer dan ahli ekonomi. Keputusan ini ternyata berdampak luas. Jika etika bisnis menjadi suatu mata kuliah tersendiri, harus ada dosen, buku pegangan dan bahan pengajaran lainnya, pendidikan dosen etika bisnis haru diatur, komunikasi ilmiah antara para ahli etika bisnis harus dijamin dengan dibukanya organisasi profesi serta jurnal ilmiah, dan seterusnya. Misalnya, Norman E. Bowie, sekretaris eksekutif dari American Philosophical Association, mengajukan proposal kepada National Endowment for the Humanities (dari Kementerian Pendidikan Amerika) guna menyusun pedoman untuk pengajaran kuliah etika bisnis. Kelompok yang yang terdiri atas beberapa filsuf, dosen sekolah bisnis, dan praktisi bisnis ini diberi nama Commeittee for Education in Business Eyhics dan membutuhkan tiga tahun untuk menyelesaikan laporannya pada akhir tahun 1980. Dengan demikian dipilihnya etika bisnis sebagai mata kuliah dalam kurikulum sekolah bisnis banyak menyumbang kepada perkembangannya kea rah bidang ilmiah yang memiliki identitas sendiri.

Etika Bisnis Meluas Ke Eropa : Tahun 1980–an
 Di Eropa Barat etika bisnis sebagai ilmu baru mulai berkembang kira – kira sepuluh tahun kemudian , mula – mula di inggris yang secara geografis maupun kultural paling dekat dengan Amerika Serikat, tetapi tidak lama kemudian juga negara – negara Eropa Barat lainnya. Semakin banyak fakultas ekonomi atau sekolah bisnis di Eropa mencantumkan mata kuliah etika bisnis dalam kurikulumnya, sebagai mata kulah pilihan ataupun wajib di tempuh. Sepuluh tahun kemudinan sudah tedapat dua belas profesor etika bisnis pertama di universitas – Universitas Eropa. Pada tahun 1987 didirikan European Business Ethich Network (EBEN) yang bertujuan menjadi forum pertemuan antara akademisi dari universitas serta seklah bisnis , para pengusaha dan wakil –wakil organisasi nasional dan internasional 9seperti misalnya serikat buruh). Konferensi EBEN yang pertama berlangsung di Brussel (1987). Konferensi kedua di Barcelona (1989) dan selanjutnya ada konferensi setiap tahun : milano (1990), London (1991), Paris (1992), Sanvika , noewegia (1993), St. Gallen Swis (1994), Breukelen , Belanda (1995), Frankfurt (1996). Sebagaian bahan konferensi – konferensi itu telah diterbitkan dalam bentuk buku.

Etika Bisnis Menjadi Fenomena Global : Tahun 1990–an
Dalam dekade 1990–an sudah mejadi jelas, etika bisnis tidak terbatas lagi pada dunia arat. Etika bisnis bersifat nasional, internasional dan global seperti bisnis itu sendiri. Kini etika bisnis dipelajari, diajarkan dan dikembangkan di seluruh dunia. Tidak mengherankan, bila etika bisnis mendapat perhatian khusus di negara yang memiliki ekonomi paling kuat di luar dunia Barat yaitu Jepang. Di India, etika bisnis dipraktekkan oleh Management Center for Human Values yang didirikan oleh dewan direksi dari Indian Institute for Management di Kalkuta. Di Hongkong selama beberapa tahun terakhir ini etika bisnis mendapat perhatian khusus, yang tentu tidak lepas dari perubahan status kekuasaan yang berlangsung. Universitas Hongkong memiliki Center of Business Values. Sedikit sebelumnya Hongkong Baptist College mendirikan Center for Applied Ethics. Tanda bukti terkahir bagi sifat global etika bisnis adalah didirkannya International Society for Business, Economics and Ethics (ISBEE). Kongkres kedua berlangsung di Sao Paolo, Brasil tahun 2000.


Referensi :
Prof. Dr. Kees Bertens, MSC. 2000. Pengantar Etika Bisnis. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
K. Bertens. 2000. Keprihatinan Moral, Telaah atas Masalah Etika. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.
Bagus, Lorens. 2000. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Sukrisno Agoes. Etika Bisnis dan Profesi. Jakarta : Salemba Empat
wikipedia.com
kompas.com

Senin, 12 Oktober 2015

Tugas 1 : Gambaran Umum Etika


1.     Pengertian Etika
No.
Nama
Tahun
Keterangan
1.
Abdullah
2006:4
Etika berdasarkan etimologinya yg berasal dari bahasa Yunani “ethos” yg bermakna kebiasaan atau adat – istiadat.
2.
Asmaran
1992:1
Etika adalah studi mengenai tingkah laku manusia, tidak hanya menentukan kebenaran – kebenarannya sebagaimana adanya tetapi juga menyelidiki manfaat/kebaikan dari seluruh tingkah laku manusia.
3.
Bertens
1993:4
Etika dalam bentuk jamak “ta etha” yg berarti adat kebiasaan
4.
Dr. James J. Spillane SJ
1990
Etika memperhatikan atau mempertimbangkan tingkah laku manusia dalam pengambilan keputusan moral.
5.
Hamzah Yacub
1988
Etika adalah ilmu yg menyelidiki mana baik dan buruk, memperlihatkan amal perbuatan manusia sejauh yg dapat diketahui oleh akal pikiran.
6.
Kamus Besar Bahasa Indonesia
1988
Etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan buruk, kumpulan azas atau nilai, dan nilai mengenai benar dan salah.
7.
Martin
1993
Etika adalah refleksi dari apa yg disebut dengan self – control, karena segala sesuatunya dibuat & diterapkan dari dan untuk kepentingan kelompok sosial (profesi) itu sendiri.
8.
Riady
2008:189
Etika dalam bahasa Latin diartikan sebagai Moralis yg berasal dari kata “Mores” dengan makna adat – istiadat yg realistis bukan teoritis.
9.
Soerganda Poerbakawatja
1990
Etika adalah filsafat mengenai nilai, kesusilaan, tentang baik dan buruk, kecuali etika mempelajari nilai – nilai, serta pengethauan mengenai nilai – nilai itu sendiri.
10.
WJS. Poerwadarminta
1989
Etika adalah ilmu pengetahuan mengenai asas – asas akhlak (moral).



2.     Pengertian Egois
No.
Nama
Tahun
Keterangan
1.
Aris Munandar
2015
Egois adalah salah satu sifat tercela yg harus ktia hindari, sifat yg tidak disukai Allah dan manusia karena berbuat demi kepentingan diri sendiri tanpa mementingkan orang lain.
2.
KBBI
1998
Egois adalah orang yg selalu mementingkan diri sendiri.
3.
Kompasiana
2011
Egois adalah sifat yang tumbuh alami dari dalam diri manusia.
4.
Kamus Bahasa Indonesia Online
2014
Egois adalah tingkah laku yg didasarkan atas dorongan untuk keuntungan diri sendiri daripada untuk kesejahteraan orang lain/segala perbuatan dan tindakan selalu disebabkan oleh keinginan untuk menguntungkan diri sendiri.
5.
Lian Harlia
2010
Egois adalah mementingkan perasaan dan pikiran sendiri tanpa mau mendengar penjelasan orang lain dan selalu bersikeras walaupun pernyataan yg diberikan salah.
6.
Natekay
2010
Egois adalah hanya mementingkan diri sendiri dan tidak peduli akan orang lain.
7.
Noname
2011
Egois adalah sikap mementingkan diri di atas kepentingan orang lain tanpa batas.
8.
Orang yg mengaku muslim
2014
Egois adalah mereka egois terhadap dirinya sendiri dan seolah tidak peduli dengan pahala dan ancaman Allah SWT.
9.
Sigmund Freud
1999
Egois adalah komponen kepribadian yg memiliki tanggung jawab dalam menangani perilaku naluriah dengan realitas.
10.
Wikipedia
1997
Egois adalah motivasi untuk mempertahankan dan meningkatkan pandangan yg hanya menguntungkan diri sendiri.



3.     Basis Teori Etika
No.
Nama
Keterangan
1.
Etika Teleologi
Teleologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “telos” yg memiliki arti tujuan. Dalam teori teleologi terdapat 2 aliran yaitu : (1) egoisme etis, (2) utilitarianisme.
2.
Deontologi
Deontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu “deon” yg memiliki arti kewajiban.
3.
Teori Hak
Teori hak merupakan pendekatan yg paling banyak dipakai untuk mengevaluasi baik buruknya suatu perbuatan atau perilaku.
4.
Teori Keutamaan (virtue)
Dalam teori keutamaan memandang sikap/akhlak seseorang. Keutamaan aalah disposisi watak yg telah diperoleh seseorang & memungkinkan seseorang untuk bertingkah laku baik secara moral.


Referensi :
Asmaran. 1992. Pengantar Studi Akhlak. Jakarta : Rajawali Pers.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1998. Jakarta :  Dep. Pendidikan & Kebudayaan.
Suhrawardi K. Lubis. 2006. Etika profesi hukum. Jakarta : Sinar Grafika.
www.kompasiana.com
www.wikipedia.com

Minggu, 14 Juni 2015

Tugas 4 : A SOLUTION FOR TKI PROBLEM

Jakarta – Vice President Jusuf Kalla (JK) said that the cause of many Indonesian workers (TKI) who look for job in other countries is due to the lack of industrial and agricultural sector’s growth in our country. He also added that if the sector is growing, it can create jobs vacancy and absorb a lot of labor in Indonesia.
“Many migrant workers (Labor Women) seeking work abroad because of lack of our agriculture and industry. In fact, 1 hectare (ha) of agriculture can give job for 5 people maximum, while 1 hectare of industry can absorb 100 labor,” he said in Dharmawangsa, South Jakarta, Thursday (29/01/2015).
Therefore, agriculture and industry sector are a very important. In addition to making a lot of jobs vacancy, both these sectors could also stimulate economic growth.
However, to develop these sectors need the availability of infrastructure and sufficient capital. That is what is being built by the government now. “We need Infrastructure and capital to develop both these sectors.” he said. (Amd/Nrm)
Sumber : Liputan6.com


In My Opinion :
I agree with the opinion of Vice President Mr. Jusuf Kalla about the cause of migrant workers (TKI) who are looking for job in other countries. The Indonesian industry sector and the agricultural sector to be developed again, in order to open up jobs and created a lot of work so that it doesn't find work aboard. To that end the goverment must quickly build and develop both the sector and it takes the infrastructure and capital is enough.

Tugas 3 : GOLD INVESTMENT

Investment is a business that can be profitable. There are so many kinds of investments such as capital investment, property and precious metals investment. From these types of investment, gold investment is an investment which is the safest because it can avoid risks such as reduced prices, bankruptcy and others. There are several kinds of gold investments which can be done namely bar-gold investment, dinar gold investment and jewelry gold investment. Before you invest in gold, you have to understand the advantages and disadvantages of those gold investments. The following is characteristic of gold investment.
1. Bar-gold investment
Bar-gold is pure gold which is bar-shaped and has some kind of value based on their size such as 10 grams, 2 grams of even 1 kilo gram. Investing in bar-gold has some advantages and disadvantages. The advantages are bar-gold is not taxable, fee print free and the resale value is quite high. However, the drawbacks are bar-gold is difficult to be sold because of its size. If we have 10 grams of gold, we cannot sell it separately for example 5 or 7 grams but we must sell as a whole.
2. Dinar gold investment
Dinar gold is a coin-shaped gold. Investing in dinar gold would be beneficial for us. The advantages are dinar gold dinar could be divided so that we can sell according to our needs, for example if we have 100 dinars, we can sell 10 dinars while the rest can be stored back, and the value is always rise because it follows developments in world gold prices. However, dinar gold also has its drawbacks. The disadvantages are dinar gold is still considered as jewelry in Indonesia so that it will be taxable and the printing costs are also quite expensive.
3. Jewelry gold
Surely you already known jewelry gold such as rings, necklaces and earrings. The advantage of investing in gold jewelry is it can be used as personal purposes. However, investing in gold jewelry also has drawbacks such as the production cost is high, taxable and difficult to trade.
Are you interested to invest in gold? If so choose and understand the type of gold you want to invest. Certainly investing in gold is very beneficial if it is compared with other types of investment.

Sumber : koransindo artikel bahasa inggris bisnis dan ekonomi

In My Opinion :
In addition to invest the house, it's good we are investing in gold. Because, gold has selling points that are high, less risk and a long - term investment. However, it's good to us first to understand the kind of gold where are we gonna choose to invest. 
The articel in the top have described as kind of and the characteristic of investment gold among other things : Bar - Gold Investment, Dinar - Gold Investment and Jewelry Gold.  So choose the type of investment gold which are suitable to you? And make sure if investing in gold is very profitable than investment the type of the other.